Entri Populer

Kamis, 03 Maret 2011

SEJARAH BULELENG

untuhnya Kerajaan Bedahulu.
Seperti terbaca dalam pelbagai buku maupun babad, bahwa sebagai tonggak
sejarah Bali adalah peristiwa pada tahun 1343, pada waktu Maha Patih Gajah Mada
dalam usahanya untuk menguasai Bali. Kerajaan Bali waktu itu dipimpin oleh Sri
Gajah Waktra  alias Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang sangat perkasa dengan
para patih dan prajurit pilihan sudah merasa mampu, ingin punya kerajaan yang
lepas dari kekuasaan yang berpusat di Majapahit. Walaupun beliau sebenarnya
berasal dari Majapahit, namun ingin punya kerajaan sendiri yang berbeda, tidak
mau berada dibawah Majapahit. Karena Raja Bali Sri Astasura Ratna Bumi Banten
"tampil beda", maka disebut "Raja Bedahulu” dan kerajaannya dinamakan
"Kerajaan Bedahulu”.
Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Sri Ratu Tribhuwanatunggadewi, tidak bisa
menerima adanya kerajaan saingan seperti kerajaan "Bedahulu”. Maka Patih Gajah
Mada berangkat ke Bali dengan pasukan pilihan dan menggempur Bali. Ternyata
memang kerajaan "Bedahulu” tidak mudah dikalahkan. Dalam bebarapa kali
penyerangan, akhirnya Kerajaan Bedahulu dapat ditaklukkan. Patih Ki Pasung
Grigis dan Panglia Perang Ki Kebo Iwa dapat dibinasakan dengan tipu daya yang
cerdik dari Maha Patih Gajah Mada. Dengan lenyapnya kerajaan Bedahulu, maka
selanjutnya Negara Bangsul (Bali) diserahkan kepada Kyai Agung Pasek Gelgel
dan Mpu Wijaksara yang dikenal dengan nama Ki Patih Wulung yang selama
kurang lebih 7 tahun terus berjuang mengamankan Bali.
Karena merasa sudah selesai tugasnya, maka Patih Wulung dan Kyai Agung Pasek
Gelgel merasa perlu untuk datang ke Majapahit untuk melaporkan keberadaan Bali.
Setelah dirundingkan maka Patih Gajah Mada menganggap sudah waktunya
mencari seorang raja berasal dari kerajaan Majapahit untuk dinobatkan di Bali
sebagai Adipati. Untuk itu lalu dipilih yang terbaik di antara putra-putri Danghyang
Kapakisan yang tidak lain adalah Bagawanta kerajaan Majapahit, untuk mengisi
jabatan di daerah-daerah yang telah dikuasainya. Putra kepertama menjadi Adipati
di Blambangan, Putra kedua menjadi Adipati di Pasuruhan, Putra ketiga (putri)
menjadi Adipati di Sumbawa dan Putra keempat menjadi Adipati di Bali. Empat
bersaudara tersebut berasal dari keturunan Brahmana (Empu Soma Kapakisan)
yang telah diturunkan tingkat kebangsawanannya menjadi Ksatrya agar sesuai
menjabat sebagai Adipati.
Dalem Ketut Kresna Kapakisan Adipati Bali.Sejak tahun 1350M yang menjadi Adipati atau Raja di Bali bergelar Dalem Ketut
Kresna Kapakisan. Istana beliau dibangun di Samprangan (sekarang Samplangan,
Gianyar) sebagai pusat pemerintahan, maka beliau diberikan gelar Dalem
Samprangan. Patih Gajah Mada melengkapi Dalem dengan beberapa benda
pusaka bertuah asal Majapahit, seperti Keris Ganja Dungkul dan kelengkapan
istana lainnya. Pemerintahan Dalem Samprangan didampingi oleh para Arya dari
Jawa seperti:  Arya Wang Bang ditempatkan di Samprangan, Arya Kanuruhan di
Tangkas, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Belog di Kaba-kaba, Arya Kutawaringin di
Klungkung, Arya Sentong di Carangsari, Arya Pamacekan di Bondalem, Arya Getas
di Tianyar, Arya Belentong di Pacung, Arya Manguri, Arya Pangalasan.
Dalam pada itu, untuk mendukung pemerintahan Dalem Ketut Kresna Kapakisan,
warga I Gusti Pasek Gelgel yang sudah banyak jumlahnya diberikan tugas sebagai
Bendesa untuk memelihara parahyangan dan upacara yadnya di seluruh wilayah
Balidwipa. Untuk itu mereka diberikan areal tanah masing-masing dengan luas
tertentu untuk penghidupannya. Selain itu ada juga beberapa yang diangkat
sebagai prajurit dan pejabat di pemerintahan.
Dalem Ketut Kresna Kapakisan ternyata kurang memahami kondisi masyarakat Bali
pada umumnya yang telah mempunyai adat kebiasaan dan budaya masing-masing
wilayah, terutama dalam masyarakat Bali Aga. Pemerintahan Dalem Samprangan
dianggap terlalu sentralistik dengan menempatkan para Arya dari Wilwatikta
(Majapahit) sebagai wakil pemerintahan sampai di daerah-daerah dengan
penguasaan wilayah serta tanah dengan penduduknya berkewajiban bayar upeti.
Maka timbul pemberontakan di pelbagai desa seperti: Batur, Cempaga, Songan,
Kedisan, Abang, Pinggon Muntig, Pludu, Kintamani, Srahi, Manikliu, Bonyoh, Taro,
Bajad, Sukawana. Juga desa Culik, Tista, Basangalas, Got, Margatiga, Sekul
kuning, Garinten, Lokasrana, Puhan, Bulakan, Tulamben dan desa lainnya. Untuk
meredam gejolak di pelbagai pelosok wilayah, Patih Gajah Mada mendatangkan
Arya Gajah Para yang ditempatkan di Toya Anyar (Tianyar). Kemudian juga
menempatkan golongan Wesia yang bernama Tankober, Tankawur, Tan Mundur
untuk menjaga keamanan di Bali. Setelah itu kondisi keamanan menjadi lebih baik
sementara waktu.
Sri Nararya Kapakisan sebagai Perdana Menteri.Pergolakan masih juga terjadi dan kondisi yang berkepanjangan ini membuat Sang
Adipati Dalem Kresna Kapakisan putus asa dan ingin meletakkan jabatan, bahkan
ingin kembali pulang ke Majapahit. Dalam keadaan demikian, maka segera dikirim
utusan ke Majapahit dipimpinan Patih Wulung untuk minta petunjuk Patih Gajah
Mada. Setelah mengadakan perundingan dengan Patih Wulung dan Kyai Agung
Pasek Gelgel, maka Patih Gajah Mada memutuskan untuk segera memerintahkan
Arya Kapakisan dari Kadiri untuk ikut ke Bali dan segera diangkat sebagai Patih
Agung kerajaan Bali. Pada tahun 1352M Arya Kapakisan diangkat oleh Patih Gajah
Mada sebagai Patih Agung setingkat Perdana Menteri kerajaan Bali. Adipati Dalem
Kresna Kapakisan sangat senang menyambut pengangkatan Sri Arya Kapakisan
sebagai Perdana Menteri sekaligus sebagai Penasehat Dalem.
Tahun 1380 Dalem Ketut Kresna Kapakisan wafat, beliau diganti oleh putra sulung
Sri Agra Samprangan yang sifatnya suka bersolek. Beliau kurang hirau pada
pemerintahan. Seringkali para Patih dan Punggawa menunggu lama di balairung
namun sia-sia karena Dalem tidak juga keluar. Karena demikian beliau dinamai
Dalem Ile.
Melihat keadaan demikian, Ki Gusti Kebon Tubuh berusaha mencari adik Dalem Ile
sebagai pengganti. Namun adiknya yang senang berjudi itu sulit ditemukan, selalu
berpindah tempat. Akhirnya ditemukan di desa Pandak, maka beliau disebut
dengan nama Ketut Ngulesir. Semula beliau menolak menggantikan Dalem Ile
sebagai Adipati, namun karena rayuan Ki Gusti Kebon Tubuh, akhirnya beliau mau
dinobatkan sebagai Adipati. Tetapi dengan permintaan agar beristana di Gelgel
yang disebut Swecapura, tidak lain adalah rumah kediaman Ki Gusti Kebon Tubuh.
Permintaan itu disetujui oleh Para Menteri dan para petinggi kerajaan. Sedangkan
Dalem Ile dibiarkan saja di Istana Samprangan.
Dari Samprangan pindah ke Gelgel.Pusat pemerintahan ada di Gelgel, tidak lagi di Samprangan, dengan Adipati Dalem
Ketut Ngulesir atau lebih dikenal dengan nama Sri Smara Kapakisan, karena beliau
berwajah tampan. Dalam mengemudikan pemerintahan Sri Smara Kapakisan cukup
bijaksana karena membawa kemakmuran rakyat.
Perdana Menteri Sri Nararya Kapakisan juga pindah ke Gelgel membangun Puri
Kapatihan dekat istana Dalem. Setelah Sri Smara Kapakisan mangkat, beliau
diganti oleh Dalem Watu Renggong yang melanjutkan kebijakan pemerintahan
Gelgel sehingga kemakmuran rakyat merata  ke segala bidang kehidupan. Dalam
perkembangan pemerintahan di Gelgel, Dalem Waturenggong juga mengangkat
beberapa petinggi sesuai pilihannya sendiri.seperti Arya Ularan sebagai Panglima
Perang dengan pasukan Dulang Mangap yang terkenal tangguh. Dalem
Waturenggong memerintahkan Panglima Perang / Patih Arya Ularan untuk
menyerang Blambangan dan berhasil menang. Tetapi karena kekeliruannya
mendengar perintah Dalem, Patih Ularan disalahkan oleh Dalem dan disingkirkan ke
Den Bukit.
Setelah Perdana Menteri Sri Nararya Kapakisan wafat, digantikan oleh putranya
yang pertama bernama I Gusti Nyuh Aya sebagai Perdana Menteri. I Gusti Nyuh Aya
mempunyai sejumlah putra maupun putri. Sesudah datang waktunya, beliau diganti
oleh putra pertamanya,  bernama I Gusti Petandakan, kemudian di ganti oleh I Gusti
Batan Jeruk sebagai Perdana Menteri.
Sedangkan putra ke-enam I Gusti Nyuh Aya yang bernama I Gusti Cacaran yang
juga dikenal dengan nama I Gusti Ngurah Jelantik (I) tidak mempunyai jabatan
penting, memilih mengungsi ke desa Pesinggahan

I Gusti Ngurah Jelantik sebagai Panglima Perang.Untuk mengisi kekosongan jabatan, Dalem Waturenggong memanggil keturunan I
Gusti Cacaran yang bergelar I Gusti Ngurah Jelantik untuk kembali ke Gelgel
dengan diberi jabatan Panglima Perang. Dalem Watu Renggong yang wafat di
sekitar tahun 1551M yang diganti oleh putranya bernama Dalem Bekung. Pada
tahun 1597 Dalem Bekung memerintahkan Panglima Perang I Gusti Ngurah Jelantik
(III) untuk menumpas pemberontakan di Blambangan dan Pasuruhan. Dalam perang
tanding dengan sengaja beliau tidak membawa senjata (mamogol), dan itu memang
dengan sengaja dilakukan agar terbunuh dalam perang untuk tujuan menebus dosa
leluhurnya. Beliau gugur meninggalkan isteri yang sedang hamil. Ketika putranya
lahir diberi nama Jelantik Bogol atau I Gusti Ngurah Jelantik (IV).
Kemudian Dalem Bekung digantikan oleh Dalem Sagening. Pada tahun 1621 Dalem
Sagening memerintahkan I Gusti Ngurah Jelantik (IV /Bogol) untuk menundukkan
penguasa Nusa Penida, Ki Dalem Bungkut atau Dalem Dukut atau Dalem Nusa.
Dengan keris kaliliran yang dijuluki Ki Pencok Saang, I Gusti Ngurah Jelantik Bogol
dapat membinasakan Dalem Bungkut dengan cara ksatria. I Gusti Ngurah Jelantik
Bogol mendapat pujian dan penghargaan dari Dalem Sagening. Namun hal itu
menimbulkan perasaan iri pihak pejabat lain. I Gusti Ngurah Jelantik Bogol (IV)
diganti oleh I Gusti Ngurah Jelantik V. Kemudian pada waktunya I Gusti Ngurah
Jelantik V digantikan oleh I Gusti Ngurah Jelantik VI.
Kekuasaan Gelgel melemah.
Dalem Sagening wafat tahun 1624. Beliau digantikan oleh putranya bernama Dalem
di Made yang masih muda. Para petinggi kerajaan Gelgel waktu itu sibuk dengan
urusannya sendiri-sendiri sehingga daerah-daerah seperti Sumbawa, Lombok dan
Blambangan berangsur dikuasai pihak lain. Keadaan Bali juga mulai gawat. Tahun
1639 pasukan Sultan Agung dari kerajaan Mataram menyerang Bali. Namun berkat
kesigapan I Gusti Ngurah Jelantik (VI), ayahanda I Gusti Ngurah Panji Sakti,
pasukan Mataram dapat diusir begitu turun dari kapalnya di Pantai Kuta sehinga
musuh lari tunggang langgang pergi tidak kembali lagi. Peristiwa itu membuat iri hati
bertambah, sehingga menimbulkan intrik di pihak para petinggi kerajaan, terutama
dari Patih Agung I Gusti Agung Maruti yang terus mempengaruhi Dalem yang masih
muda itu agar meminta keris pusaka (kaliliran) milik I Gusti Ngurah Jelantik bernama
Ki Pencok Saang yang sangat bertuah, namun I Gusti Ngurah Jelantik secara tegas
tidak akan menyerahkan pusaka nenek moyangnya itu. I Gusti Ngurah Jelantik dan
keluarganya telah beberapa kali mendapat serangan pasukan bersenjata suruhan I
Gusti Agung Maruti untuk membunuhnya namun selalu gagal. Dasarnya adalah
bilamana I Gusti Agung Maruti memiliki keris pusaka itu nantinya bisa menguasai
Dalem dan bisa lebih leluasa mengambil alih kerajaan Gelgel. Sifat ingin berkuasa I
Gusti Agung Maruti itu menimbulkan kegelisahan sehingga banyak petinggi
kerajaan dan masyarakat meningglkan Gelgel dan mengungsi ke tempat aman,
menyebar ke pelosok desa di Bali. Diantaranyan banyak keluarga pindah ke Den
Bukit (Buleleng) dan mendapat perlindungan I Gusti Ngurah Panji Sakti.
I Gusti Agung Maruti merebut kekuasaan Dalem Gelgel.Keinginan I Gusti Agung Maruti berhasil mengusir Dalem dan menguasai istana
Gelgel, kemudian pada tahun 1655 mengangkat dirinya sebagai penguasa kerajaan
Bali dengan nama Dalem Gelgel. Namun kedudukan I Gusti Agung Maruti sebagai
raja Bali atau Dalem Gelgel tidak diakui sehingga timbul beberapa penguasa
wilayah baru di Bali, seperti di wilayah Den Bukit dengan nama kerajaan Buleleng
yang dikuasai oleh I Gusti Ngurah Panji Sakti. Selain itu muncul kerajaan
Karangasem, Bangli, Mengwi, Gianyar, Jembrana, Tabanan, Badung dan kerajaan
lainnya. Kekuasaan I Gusti Agung Maruti sebagai Dalem Gelgel berakhir tahun
1686 oleh serangan koalisi dengan gugurnya Panglima Perang pasukan I Gusti
Agung Maruti yang bernama Ki Dukut Kerta yang berhasil dibunuh oleh Ki
Tamblang Sampun, Panglima Perang I Gusti Ngurah Panji Sakti dari kerajaan
Buleleng.
Kekuasaan Dalem di Gelgel runtuh.Walaupun I Gusti Agung Maruti telah melarikan diri namun kekuasaan Gelgel sudah
tidak mungkin dikembalikan lagi sebagai susuhan Bali. Pusat pemerintahan
berpindah ke Kelungkung yang disebut Semarapura dengan Dewa Agung Jambe
sebagai raja. Namun pemberontakan terjadi di seluruh Bali dengan beberapa
wilayah yang masing-masing berusaha membentuk negara sendiri.
I Gusti Anglurah Panji bertahan dengan keutuhan negara Buleleng.





Nama:







Email:







Alamat rumah:





Komentar:










Panji SaktiArya Kapakisan adalah keturunan Raja Bali, Sri Dharma Udayana Warmadewa dan
juga Raja-raja Kadiri - Jawa Timur: Sri Airlangga, putra sulung suami isteri Sri
Dharma Udayana - Gunapriya Dharmapatni - Sri Semarawijaya - Sri Kamesawara -
Sri Jayasabha - Sri Sastrajaya. Sedangkan di Bali, yang meneruskan sebagai raja
dinasti Warmadewa adalah putra bungsu Sri Dharma Udayana, yang bernama Sri
Anak Wungsu sampai tahun 1080. Arya Kapakisan yang dibawa (kemBali) ke Bali
oleh Patih Gajah Mada diberi julukan Satriyeng Kadiri.
Sedangkan I Gusti Anglurah Panji Sakti, beliau adalah keturunan Aryeng Kadiri
melalui I Gusti Ngurah Jelantik - Panglima Perang sejak pemerintahan Dalem
Waturenggong, melalui Arya Cacaran, Perdana Menteri I Gusti Nyuh Aya - Perdana
Menteri kerajaan Bali pada jaman Dalem Ketut Kresna Kapakisan. Leluhurnya
adalah Sri Airlangga Raja Kediri. Bilamana diteruskan juga akan mengarah ke Bali
melalui Raja Bali abad ke XI Sri Udayana Warmadewa. Maka dalam perjalanan
hidupnya penuh perjuangan membangun kerajaan di Den Bukit dan selalu
mengkaitkan Bali dengan Jawa (Timur). Pada waktu Panji sakti sempat ke Solo,
beliau melihat langsung bekas kerajaan Kadiri - Panjalu – Jenggala yang
memprihatinkan. Sekembali dari Solo dan Blambangan, beliau membangun istana
bernama Puri Buleleng yang kemudian menjadi Kerajaan Buleleng. Maka ada
perkiraan para peneliti sejarah, bahwa Panji Sakti membangun kerajaan Buleleng
bermaksud membangun kembali kerajaan leluhurnya.
Buleleng adalah Jenggala ( =jagung gembal, Latin= Sorghum vulgare).

Dalam kebijakan membangun kerajaan Buleleng, Panji Sakti berbekal pada suatu
bentuk berlandaskan cinta kasih yang diberikan kepadanya oleh ayahandanya, I
Gusti Ngurah Jelantik yang memberikan dua buah pusaka (heirloom) berbentuk
keris Ki Semang dan sebuah tulup Ki Tunjungtutur atau Ki Pangkajatattwa. Bekal
berikutnya adalah kesadaran, bahwa walau dirinya hanya anak seorang selir tetapi
secara tegas ayahandanya mengakuinya sebagai putranya sendiri. Bekal
berikutnya, konsekuensi dia anak yang disisihkan dari kalangan keluarganya di
kerajaan Gelgel, dalam usia belia dikirim ke wilayah Den Bukit, hidup di tengah
keluarga ibunya, Ni Pasek Gobleg, di desa Panji, tumbuh dalam pembinaan
pamannya, Ki Wayan Pasek.
Maka disebutkan, kerajaan Buleleng dibentuk dengan pola pemerintahan
kerakyatan dengan semangat megoakgoakan, anti hegemony dengan rehabilitasi
pemerintahan Gelgel yang dikuasai I Gusti Agung Maruti dan menjadi penguasa
lokal di Den Bukit, anti imperialisme dengan aliansi ...
Sifat membela keluarga dan kerabat, seperti menyelamatkan keluarga Jelantik
(cucunda) keluar dari Gelgel yang runtuh dengan berpindah ke Blahbatuh dengan
pengawalan.
Dalam bidang spiritual, beliau mendalami ajaran "Kamahayanikan" yang kemudian
diberikannya kepada para sentana. Waktu piodalan di Pura Gedong di Blahbatuh,
selain memberi ajaran "Kamahayanikan"  dalam upacara "memeras cucu", beliau
menyerahkan sebuah benda pusaka tulup Ki Tunjungtutur sebagai tanda pertalian
keluarga.....

I Gusti Anglurah Panji Sakti menjalani kehidupan sederhana dan akhirnya moksah di
puri Panji - Buleleng

I Gusti Ngurah Jelantik VI Panglima Perang kerajaan Gelgel.
Diceritakan setelah Pulau Bali berhasil ditaklukkan kerajaan Majapahit pada tahun
1343 maka kemudian Mahapatih Gajah Mada mengangkat Adipati berasal dari
Jawa yang diberi gelar Dalem Ketut Kresna Kapakisan sebagai Raja Bali. Istana
beliau berada di Samprangan, wilayah Gianyar sekarang, sebagai pusat
pemerintahannya. Pada mulanya pemerintahan Dalem Samprangan mendapat
reaksi dari masyarakat asli, Bali Aga, membuat Pulau Bali kurang aman.
Untuk menjaga kestabilan dan keamanan pemerintahan, pada tahun 1352 Patih
Gajah Mada mengangkat Sri Nararya Kapakisan berasal dari Jawa Timur sebagai
Perdana Menteri sekaligus sebagai Penasehat Dalem.
(Baca:
Runtuhnya Kerajaan Bedahulu).

Alkisah setelah beberapa keturunan berlalu, disebutlah seorang dari keturunan
Sri Nararya Kapakisan / I Gusti Nyuh Aya, yang bergelar I Gusti Ngurah Jelantik
VI, menjabat sebagai Panglima Perang yang dihandalkan oleh raja yang bergelar
Dalem Sagening yang istana dan pemerintahannya telah berpindah dari
Samprangan ke Gelgel. I Gusti Ngurah Jelantik beristana di puri Jelantik -
Swecalinggarsapura, tidak jauh dari istana raja di Gelgel.

Di puri Jelantik, banyak para abdi laki-laki dan perempuan yang berasal dari
berbagai tempat. Di antara para abdi ada seorang perempuan pelayan (pariwara)
yang sehari-harinya bertugas sebagai penjaga pintu, bernama Ni Pasek Gobleg.
Pada suatu hari, I Gusti Ngurah Jelantik pulang dari bepergian. Pada saat beliau
melangkahkan kaki masuk halaman puri, waktu itu sang pariwara Ni Pasek Gobleg
baru saja selesai membuang air kecil (angunyuh). I Gusti Ngurah Jelantik terkejut
ketika beliau menginjak air yang dirasa hangat di telapak kakinya. Beliau meyakini
air itu tidak lain adalah air kencing Ni Pasek Gobleg, pelayan dari desa Panji
wilayah Den Bukit itu.Timbul gairah birahi I Gusti Ngurah Jelantik kepada Ni
Pasek Gobleg dan serta merta menjamahnya. Hubungan cinta kasih yang
melibatkan I Gusti Ngurah Jelantik dengan pelayannya tidak diketahui oleh
isterinya, I Gusti Ayu Brang-Singa.

Dari larutnya hubungan itu, tidak berselang lama Ni Pasek Gobleg mengandung
dan sampai pada waktunya, lahir seorang bayi laki-laki yang sempurna yang diberi
nama I Gusti Gde Pasekan. Nama itu diambil dari pihak sang ibu yang berasal dari
trah Pasek.
Beberapa waktu kemudian, sang pramiswari, I Gusti Ayu Brang-Singa, setelah
kehamilannya cukup waktunya, juga melahirkan seorang bayi laki-laki, yang diberi
nama I Gusti Gde Ngurah. I Gusti Gde Pasekan lebih tua dari I Gusti Gde Ngurah.

Disebutkan, bahwa dari ubun-ubun I Gusti Gde Pasekan muncul berkas sinar,
tambahan lagi lidahnya berbulu. Melihat keistimewaan I Gusti Gde Pasekan,
muncul perasaan was­was I Gusti Ayu Brang-Singa, bilamana di kemudian hari
nanti, I Gusti Gde Pasekan akan lebih disayang oleh I Gusti Ngurah Jelantik. Lagi
pula akan bisa mengalahkan kedudukan I Gusti Gde Ngurah, putranya sendiri yang
lebih berhak atas segala warisan. Ujar Ni Gusti Ayu Brang-singa: „Kakanda Gusti
Ngurah, dari manakah asal-usul anak bayi ini, kakanda?"
Dijawab oleh I Gusti Ngurah Jelantik: „Baiklah adinda, bayi itu asalnya dari
kakanda sendiri, dilahirkan dari seorang pariwara bernama Ni Pasek Gobleg,
berhubungan hanya sekali".

Menyahut Ni Gusti Brang-Singa dengan air muka sedih: „Kalau begitu baiklah.
Tetapi bila bayi ini tetap berada disini, maka masalah ini membuat adinda akan
menentang. Bilamana anak ini memiliki hak di Purl Jelantik". Demikian kata-kata
sang isteri kepada Ki Gusti Ngurah Jelantik yang langsung menjawab: „ Jangan
merasa gundah, adinda. Anak itu bersama ibunya akan meninggalkan tempat ini
dan pergi ke Ler Gunung". Mendapat jawaban demikian wajah Ni Gusti Ayu Brang-
Singa kembali tampak berseri.
Sampailah diceritakan, seseorang bernama I Wayahan Pasek dari desa Panji, dalam
perjalanan telah sampai ke puri Jelantik, menjenguk Ni Pasek Gobleg, ibu I Gusti
Gde Pasekan. Ki Wayahan Pasek adalah saudara mindon Ni Pasek Gobleg. Di
dalam puri, I Gusti Ngurah Jelantik sudah siap menanti. Demikian sabda I Gusti
Ngurah Jelantik: „Wahai engkau Wayahan Pasek. Bawalah olehmu I Gde Pasekan
ke Ler Gunung. Perintahku kepadamu, agar engkau memandang dia sebagai gusti-
mu di sana. Lagi pula di dalam tata laksana upakara terhadapnya jangan dicemari
(carub), karena dia adalah sejatinya berasal dari aku".  Sembah atur I Wayahan
Pasek: „Baiklah, hamba junjung tinggi wacanan Gusti. Semuanya sudah jelas bagi
hamba." 1)
1) Sabda Ki Gusti Ngurah: ,,E, kita Wayahan Pasěk, anakta Ki Gĕde Pasĕkan
ajakĕn mara marêng Ler-Gunung. Manirâweh i kita,kitânggen gusti ring kana.
Sadene sira angupakāra; aywa koruban acamah, apan agawe n manira jāti”.
Matur ki Wayahan Pasěk:,,Inggih, kawulânuhun wacana n I gusti. Sampun
anangçayêng twas”.
I Gusti Gde Pasekan sudah berumur 12 tahun. Sebelum perjalanan dimulai, beliau
dibekali sebuah pusaka oleh sang ayah, I Gusti Ngurah Jelantik, berbentuk sebilah
keris. Disamping itu diberikan juga pusaka leluhur berupa tombak-tulup bernama
Ki Pangkajatattwa atau Ki Tunjungtutur. Setelah semuanya siap, perjalanan ke Ler
Gunung dimulai. Disamping ibunya, Ni Pasek Gobleg dan pamannya, I Wayan
Pasek, I Gusti Gde Pasekan diiringi oleh 40 orang pengawal, dipimpin oleh Ki
Dumpyung dan Ki Dosot.

Di saat mulai melangkah, I Gusti Gde Pasekan merasa sedih meninggalkan tempat
kelahirannya, teringat kembali akan pesan-pesan ayahnya. Teman-teman
sepermainannya akan segera ditinggalkan menuju tempat jauh di Ler Gunung.
Perasaanya penuh tanya dan keraguan. Terdengar suara seperti berasal dari keris
pusaka:  "Ih, aywa semang" yang artinya “ Ih, jangan ragu”.  I Gusti Gde Pasekan
tersentak heran, namun akhirnya senang karena keris pusaka yang diberikan
ayahandanya mampu berbicara.

Perjalanan pun dimulai. Pertama mengarah Barat selama sehari. Esoknya perjalanan
berbelok mengarah ke Utara. Jalan yang dilintasi mulai menanjak dan berkelok-
kelok. Rasa lelah mulai dirasakan oleh anggota rombongan, tetapi karena hawa
mulai dirasakan makin sejuk.

Selasa, 22 Februari 2011

laskar pelangi

Beberapa waktu ini Tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata kian mewangi kembali. Ada apa gerangan? Yup, betul. Buku pertama dari tetralogi tersebut, Laskar Pelangi kini diangkat ke layar lebar.
Bagi yang sudah membaca bukunya mungkin menonton film laskar pelangi bukan sesuatu yang rumit untuk dipahami. Tapi, bagi yang belum pernah baca bukunya berikut aye tulis sinopsis novel laskar pelangi yang aye dapet dari salah satu milis yang aye ikuti. Moga bermanfaat bagi pengembangan dunia pendidikan kita.
Sinopsis Buku Laskar Pelangi
sinopsis buku laskar pelangi
Diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh penulisnya sendiri, buku “Laskar Pelangi” menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung dari suatu komunitas Melayu yang sangat miskin Belitung. Anak orang-orang ‘kecil’ ini mencoba memperbaiki masa depan dengan menempuh pendidikan dasar dan menengah di sebuah lembaga pendidikan yang puritan. Bersebelahan dengan sebuah lembaga pendidikan yang dikelola dan difasilitasi begitu modern pada masanya, SD Muhammadiyah-sekolah penulis ini, tampak begitu papa dibandingkan dengan sekolah-sekolah PN Timah (Perusahaan Negara Timah). Mereka, para native Belitung ini tersudut dalam ironi yang sangat besar karena kemiskinannya justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang mengeksploitasi tanah ulayat mereka.
Kesulitan terus menerus membayangi sekolah kampung itu. Sekolah yang dibangun atas jiwa ikhlas dan kepeloporan dua orang guru, seorang kepala sekolah yang sudah tua, Bapak Harfan Efendy Noor dan ibu guru muda, Ibu Muslimah Hafsari, yang juga sangat miskin, berusaha mempertahankan semangat besar pendidikan dengan terseok-seok. Sekolah yang nyaris dibubarkan oleh pengawas sekolah Depdikbud Sumsel karena kekurangan murid itu, terselamatkan berkat seorang anak idiot yang sepanjang masa bersekolah tak pernah mendapatkan rapor. Sekolah yang dihidupi lewat uluran tangan para donatur di komunitas marjinal itu begitu miskin: gedung sekolah bobrok, ruang kelas beralas tanah, beratap bolong-bolong, berbangku seadanya, jika malam dipakai untuk menyimpan ternak, bahkan kapur tulis sekalipun terasa mahal bagi sekolah yang hanya mampu menggaji guru dan kepala sekolahnya dengan sekian kilo beras-sehingga para guru itu terpaksa menafkahi keluarganya dengan cara lain. Sang kepala sekolah mencangkul sebidang kebun dan sang ibu guru menerima jahitan.
Kendati demikian, keajaiban seakan terjadi setiap hari di sekolah yang dari jauh tampak seperti bangunan yang akan roboh. Semuanya terjadi karena sejak hari pertama kelas satu sang kepala sekolah dan sang ibu guru muda yang hanya berijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri) telah berhasil mengambil hati sebelas anak-anak kecil miskin itu.
Dari waktu ke waktu mereka berdua bahu membahu membesarkan hati kesebelas anak-anak marjinal tadi agar percaya diri, berani berkompetisi, agar menghargai dan menempatkan pendidikan sebagai hal yang sangat penting dalam hidup ini. Mereka mengajari kesebelas muridnya agar tegar, tekun, tak mudah menyerah, dan gagah berani menghadapi kesulitan sebesar apapun. Kedua guru itu juga merupakan guru yang ulung sehingga menghasilkan seorang murid yang sangat pintar dan mereka mampu mengasah bakat beberapa murid lainnya. Pak Harfan dan Bu Mus juga mengajarkan cinta sesama dan mereka amat menyayangi kesebelas muridnya. Kedua guru miskin itu memberi julukan kesebelas murid itu sebagai para Laskar Pelangi.
Keajaiban terjadi ketika sekolah Muhamaddiyah, dipimpin oleh salah satu laskar pelangi mampu menjuarai karnaval mengalahkan sekolah PN dan keajaiban mencapai puncaknya ketika tiga orang anak anggota laskar pelangi (Ikal, Lintang, dan Sahara) berhasil menjuarai lomba cerdas tangkas mengalahkan sekolah-sekolah PN dan sekolah-sekolah negeri. Suatu prestasi yang puluhan tahun selalu digondol sekolah-sekolah PN.
Tak ayal, kejadian yang paling menyedihkan melanda sekolah Muhamaddiyah ketika Lintang, siswa paling jenius anggota laskar pelangi itu harus berhenti sekolah padahal cuma tinggal satu triwulan menyelesaikan SMP. Ia harus berhenti karena ia anak laki-laki tertua yang harus menghidupi keluarga sebab ketika itu ayahnya meninggal dunia. Native Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah keluarga justru disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan mengekploitasi tanah leluhurnya.
Meskipun awal tahun 90-an sekolah Muhamaddiyah itu akhirnya ditutup karena sama sekali sudah tidak bisa membiayai diri sendiri tapi semangat, integritas, keluruhan budi, dan ketekunan yang diajarkan Pak Harfan dan Bu Muslimah tetap hidup dalam hati para laskar pelangi. Akhirnya kedua guru itu bisa berbangga karena diantara sebelas orang anggota laskar pelangi sekarang ada yang menjadi wakil rakyat, ada yang menjadi research and development manager di salah satu perusahaan multi nasional paling penting di negeri ini, ada yang mendapatkan bea siswa international kemudian melakukan research di University de Paris, Sorbonne dan lulus S2 dengan predikat with distinction dari sebuah universitas terkemuka di Inggris. Semua itu, buah dari pendidikan akhlak dan kecintaan intelektual yang ditanamkan oleh Bu Mus dan Pak Harfan. Kedua orang hebat yang mungkin bahkan belum pernah keluar dari pulau mereka sendiri di ujung paling Selatan Sumatera sana.
Banyak hal-hal inspiratif yang dimunculkan buku ini. Buku ini memberikan contoh dan membesarkan hati. Buku ini memperlihatkan bahwa di tangan seorang guru, kemiskinan dapat diubah menjadi kekuatan, keterbatasan bukanlah kendala untuk maju, dan pendidikan bermutu memiliki definisi dan dimensi yang sangat luas. Paling tidak laskar pelangi dan sekolah miskin Muhamaddiyah menunjukkan bahwa pendidikan yang hebat sama sekali tak berhubungan dengan fasilitas. Terakhir cerita laskar pelangi memberitahu kita bahwa bahwa guru benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa.
Baca juga: Sinopsis novel laskar pelangi
Kunjungi juga: Scholarship Link

Senin, 21 Februari 2011

website

http://www.babadbali.com/pustaka/babad/daftar-ringkasan.htm#babad

babad arya kenceng

Pada tahun 1342, pasukan perang Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada selaku Panglima Perang Tertinggi, dibantu oleh Wakil Panglima Perang yang bernama Arya Damar, serta beberapa Perwira / Ksatria menyerang Kerajaan Bedulu di Bali. Masing-masing ksatria ini memimpin pasukannya menyerang. Dikisahkan, Gajah Mada menyerang dari arah Timur, diiringi oleh patih keturunan Mpu Witadarma mendarat di Toya Anyar ( Tianyar ), Arya Damar bersama Arya Sentong dan Arya Kuta Waringin mendarat di Ularan menyerang Bali dari arah Utara, Arya Kenceng bersama Arya Belog, Arya Pengalasan dan Arya Kanuruhan menyerang dari arah Selatan, mendarat di Bangsul menuju Kuta . Pasukan Arya Damar berhasil menaklukkan Ularan yang terletak di pantai utara Bali. Pemimpin Ularan yang bernama Pasung Giri akhirnya menyerah setelah bertempur selama dua hari. Arya Damar yang kehilangan banyak prajurit melampiaskan kemarahannya dengan cara membunuh Pasung Giri. Arya Damar kembali ke Majapahit untuk melaporkan kemenangan di Ularan. Pemerintah pusat yang saat itu dipimpin Tribhuwana Tunggadewi marah atas kelancangannya, yaitu membunuh musuh yang sudah menyerah. Arya Damar pun dikirim kembali ke medan perang untuk menebus kesalahannya. Arya Damar tiba di Bali bergabung dengan Gajah Mada yang bersiap menyerang Tawing. Sempat terjadi kesalahpahaman di mana Arya Damar menyerbu lebih dulu sebelum datangnya perintah. Namun keduanya akhirnya berdamai sehingga pertahanan terakhir Bali pun dapat dihancurkan. Seluruh Pulau Bali akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Majapahit setelah pertempuran panjang selama tujuh bulan.[2] Pemerintahan Bali kemudian dipegang oleh adik-adik Arya Damar, yaitu Arya Kenceng, Arya Kutawandira, Arya Sentong, dan Arya Belog. Sementara itu, Arya Damar sendiri kembali ke daerah kekuasaannya di Palembang. Arya Kenceng memimpin saudara-saudaranya sebagai penguasa Bali bawahan Majapahit. Ia dianggap sebagai leluhur raja-raja Tabanan dan Badung.( Sumber : http://id.rodovid.org/wk/Orang:331778 ) Diceritakan setelah Bali berhasil ditaklukan, sebelum Patih Gajah Mada meninggalkan pulau Bali, semua Arya dikumpulkan, diberikan ceramah tentang pengaturan pemerintahan, ilmu kepemimpinan sampai pada ilmu politik. tujuan utamanya ialah tetap mempersatukan pulau Bali dan dapat dipertahankan sebagai daerah kekuasaan Majapahit. Setelah semua dirasa cukup, semua Arya diberikan daerah kekuasaan yang menyebar diseluruh Bali. Sirarya Kenceng diberikan kekuasaan didaerah Tabanan dengan rakyat sebanyak 40.000 orang, Sirarya Kuta Waringin bertahan di Gegel dengan rakyat sebanyak 5.000 orang, Sirarya Sentong berkedudukan di Pacung dengan rakyat sebanyak 10.000 orang dan Sirarya Belog ( Tan Wikan ) diberikan kerdudukan di Kabakaba dengan jumlah rakyat sebanyak 5.000 orang. Sirarya Dhamar diajak kembali ke Majapahit, kelak beliau diangkat menjadi Adipati Palembang. [3] Salah satu keturunan dari Raja Tabanan, kemudian mendirikan kerajaan Badung ( Denpasar ) yang terkenal dengan Perang Puputan Badung melawan kolonial Belanda. Babad ini juga menceritakan kejadian-kejadian penting dan suksesi Raja-Raja Tabanan.
Kembali diceritakan lagi, tentang para ksatria enam bersaudara itu, bagaimana keadaannya ?. Yang sulung bernama Raden Cakradara, alangkah tampan dan sempurna wajahnya, tinggi ilmunya, cerdas dan bijaksana, bajik prilakunya, banyak pengetahuannya, pemberani dan mahir dalam pertempuran. Di dalam sayembara beliau terpilih untuk dijadikan suami oleh sang raja putri Bra Wilwatikta ( raja Majapahit ) yang ketiga. Setelah menikah beliau bergelar Sri Kerta Wardana.
Adapun yang kedua banyak nama beliau, Sirarya Damar, Arya Teja, Raden Dilah, Kyayi Nala. Demikian jumlah namanya. Jabatannya 'Dyaksa', perintahnya selalu ditaati, bagaikan singa keberanian beliau.
Yang ketiga bernama Sirarya Kenceng, terkenal tentang keganasannya, keberaniannya ibarat harimau.
Yang keempat Sirarya Kuta Waringin. Yang kelima Sirarya Sentong, serta yang keenam Sirarya Belog, semuanya itu pandai bersilat lidah, bagaikan kelompok gandara prilaku mereka. Kelima para arya itu menjadi pejabat penting ( bahudanda ) mengabdikan diri dibawah Sri Maha Rajadewi Wilatikta ( Majapahit )[5]
Betara Arya Kenceng berkuasa di daerah Tabanan, beristana di sebuah desa bernama Pucangan atau Buwahan di sebelah selatan Baleagung. Batas daerah kekuasaan beliau : sebelah timur sungai Panahan, sebelah barat sungai Sapwan, sebelah utara Gunung Beratan atau Batukaru dan sebelah selatan daerah-daerah di utara desa Sanda, Kurambitan, Blungbang, Tangguntiti dan Bajra, sama-sama daerah kekuasaan Kabakaba, mulai tahun saka 1256. Adapun beliau Batara Arya Kenceng menikah dengan seorang keturunan brahmana di Ketepengreges, wilayah Majapahit, sang putri tiga bersaudara. Yang tertua menikah dengan Dalem Sri Kresna Kepakisan, Yang ketiga (anom) menikah dengan Arya Sentong dan yang kedua (penengah) menikah dengan Batara Arya Kenceng.


1. Kiyai Tegeh ( Arya Kenceng Tegeh Kori bukan Kuri ). Merupakan Putra kandung dari Arya Kenceng yang beribu dari desa Tegeh di Tabanan( bukan putra Dalem yang diberikan kepada Arya Kenceng, menurut babad versi Benculuk Tegeh Kori / http://bali.stitidharma.org/babad-arya-tegeh-kuri/ ), Beliau membangun Kerajaan di Badung, diselatan kuburan Badung ( Tegal ) dengan nama Puri Tegeh Kori ( sekarang bernama Gria Jro Agung Tegal ), karena ada konflik di intern keluarga maka beliau meninggalkan puri di Tegal dan pindah ke Kapal. Di Kapal sempat membuat mrajan dengan nama "Mrajan Mayun " yang sama dengan nama mrajan sewaktu di Tegal, dan odalannya sama yaitu pada saat "Pagerwesi". Dari sana para putra berpencar mencari tempat. Kini pretisentananya ( keturunannya ) berada di Puri Agung Tegal Tamu, Batubulan, Gianyar dan Jero Gelgel di Mengwitani( Badung), Jro Tegeh di Malkangin Tabanan. Dan dalam babad perjalanan Kiyai Tegeh ( Arya Kenceng Tegeh Kori ) tidak pernah membuat istana di Benculuk atau sekarang di sebut Tonja apalagi sampai membangun mrajan Kawitan di Tonja. Di Puri Tegeh Kori beliau berkuasa sampai generasi ke empat.[7]
Adapun putra -putra dari Arya Kenceng Tegeh Kori IV adalah :
  • 1. Kyai Anglurah Putu Agung Tegeh Kori ( setelah dari Kapal kemudian membangun puri di Tegal Tamu, Gianyar, dengan nama Puri Agung Tegal Tamu ( Tamu dari Tegal ). Beliau berputra :
    • 1. I Gusti Putu GelGel. Magenah ring ( bertempat tinggal di ) : Jro Gelgel di Mengwitani Badung, Yeh Mengecir Jembrana dan Jro Tegeh di Malkangin Tabanan
    • 2. I Gusti Putu Mayun. Magenah ring Jro Batu Belig ,Batubelig dan Cemagi
    • 3. I Gusti Ketut Mas. Magenah ring Klusa
    • 4. Kyai Anglurah Made Tegeh. Magenah ring Perang Alas( Lukluk Badung), Pacung ( Abian semal ) dan Dencarik ( Buleleng )
    • 5. I Gusti Nyoman Mas. Magenah ring Kutri
    • 6. I Gusti Putu Sulang. Magenah ring Sulang
    • 7. I Gusti Made Tegeh. Magenah ring Mambal, Sibang, Karang Dalem
    • 8. I Gusti Mesataan. Magenah ring Sidemen
    • 9. I Gusti Putu Tegeh. Magenah ring Lambing, Klan, Tuban
    • 10. I Gusti Ketut Maguyangan. Magenah ring Desa Banyu Campah
    • 11. I Gusti Gede Tegeh. Magenah ring Plasa ( Kuta )
    • 12. I Gusti Abyan Timbul. Magenah ring Abian Timbul
    • 13. I Gusti Putu Sumerta. Magenah ring Sumerta
  • 2. Kyai Anglurah Made Tegeh
  • 3. Kyai Ayu Mimba / Kyai Ayu Tegeh ( Beliau yang menikah Ke Kawya Pura /Puri Mengwi )

arya pengalasan

Arya Pengalasan adalah salah satu panglima perang yang menyertai Gajah Mada ketika menyerang/menaklukan Bali pada abad ke-14 (tahun 1343M).
Beliau bergelar Arya, sesuai dengan profesinya sebagai panglima perang bersama para panglima lainnya dari Jawa Timur (Majapahit), yaitu Arya Damar (Aditya Warman), Arya Kenceng, Arya Kutawaringin, Arya Gajahpara, Arya Kanuruhan, Arya Petandakan, Arya Pamacekan, Arya Belog, Arya Sentong, Arya Belencong, Arya Wangbang Kediri, Arya Wangbang Kahuripan, Arya Kepakisan, Arya Tan Kawur, Arya Tan Mundur, dan Arya Tan Kobar.
Arya Pengalasan adalah tangan kanan Gajah Mada ketika menyerang Bali dari arah barat, mulai dari Kediri, Watukaru, terus ke Tamblingan. Setelah daerah-daerah itu dikuasai, maka Arya Pengalasan ditugaskan menjaganya sebagai penguasa, berkedudukan di Penebel. Wilayahnya mencakup seluruh Tabanan, Jembrana, dan Badung.

babad arya pengalasan

Ini perihal ketentuan dan kewajiban di pura Besakih (Gunung Agung) yang tercantum dalam Piagam Raja (Dalem). Anglurah Kebayan di Besakih dan Sedahan Ler di Selat mempunyai tugas yang sama untuk memelihara dan menegakkan piagam raja ini. Begini disebutkan, persembahan raja berupa tanah sawah untuk laba pura. Tanah itu ada di wilayah desa Tohjiwa terletak di subak Kepasekan, Bugbugan, Lenging Ogang, Lod Umah, Dauh Kutuh, jumlah semuanya berbibit 12 1/2 tenah, untuk Batara Ratu Kidul sepertiga, Batara I Dewa Bukit Pangubengan sepertiga, Batara Dewa Danginkreteg sepertiga, jadi masing-masing pura mendapat sawah berbibit 3 tenah 2 depuk. Lagi sawah untuk laba pura persembahan Dalem ke hadapan Batara di Batumadeg tanah sawah di desa Tangkup yang terletak di Jejero berbibit 5 tenah. Lagi laba pura persembahan Dalem ke hadapan Batara Manik Geni berupa tanah sawah di Muncan yang terletak
 
Halaman 2a Kembali ke atas
di Teba Kulon, Teba Lor, berbibit 4 tenah. Persembahan Dalem ke hadapan Batara Basukihan, dan Batara Tulus Dewa berupa tanah sawah di desa Klungah terletak di subak Bukihan berbibit 12 tenah yang juga dipergunakan untuk bebakaran. Untuk pesangon juru arah, pengusung Sang Hyang Siyem, Batara Rabut Paradah ialah hasil sawah di desa Macetra di sebelah selatan bukit Santap berbibit tiga setengah tenah. Ini ketentuan yang pertama. Warga keturunan dari Majapahit yang ikut bersama Sri Kepakisan yang datang dan menjadi raja di Bali ialah keturunan warga Kanuruhan, Arya Kenceng, Arya Delancang, Arya Belog, Sira Wang Bang. Sesudah itu Arya Kutawaringin. Pangeran Asak mengembara
 
Halaman 2b Kembali ke atas
akhirnya sampai dan tinggal di Kapal. Di sini diangkat sebagai menantu oleh Arya Pengalasan berputra laki-laki bernama Pangeran Dauh, Pangeran Nginte dan ada pula yang wanita. Pangeran Nginte berputra Gusti Agung, Gusti di Ler. Pangeran Dauh berputra laki-laki dua orang dan wanita, yang diperistri oleh Pangeran Pande, yang tertua diperistri sepupunya, yang lebih kecil diperistri oleh Pangeran Dauh yang disebut Pangeran Srantik di Camanggawon. Keturunan Arya Kanuruhan: Pangeran Pagatepan dan Pangeran Tangkas. Pangeran Pangalasan menurunkan:
 
Halaman 3a Kembali ke atas
Srantik ini kesatria dari Majapahit bersepupu dengan keturunan Pangeran Dauh Bale Agung warga Arya Kepakisan menjadi menteri Dalem Kepakisan yang keturunannya antara lain: Pangeran Batan Jeruk, Pangeran Nyuh Aya, Pangeran Asak. Keturunan Arya Wang Bang, Sang Penataran, Tohjiwa, Singarsa termasuk rumpun warga Pengalasan. Keturunan Arya Kenceng yaitu: Tabanan dan Badung, Keturunan Arya Belog: Buringkit dan Kaba-kaba. Keturunan Arya Wang Bang: Pring dan Cagahan Keturunan Arya Kutawaringin: Kubon Tubuh. Tiga orang wesya dari
 
Halaman 3b Kembali ke atas
Majapahit yang bernama Tan Kober, Tan Mundur dan Tan Kawur. Keturunannya ialah Pacung, Abiansemal dan Cacahan. Pangeran Pande bersaudara dengan Pangeran Anjarame yang kawin dengan saudara Pangeran Anglurah Kanca. Mempunyai anak yang kawin dengan Pangeran Jelantik. Pangeran Pande mengambil istri ke Kapal menurunkan Arya Dauh yang ada sekarang. Dan I Gusti Agung berputra lima orang pria dan wanita tiga orang antara lain: I Gusti Kacang Pawos, I Gusti Intaran. I Gusti di Ler berputra sepuluh orang pria antara lain: I Gusti Penida dan yang wanita kawin ke Kapal (Gelgel) dengan I Gusti Kubon Tubuh. Ini merupakan mufakat dan ketulusan hati yang tersebut di atas ngemong pura-pura di Besakih. Semoga berhasil dan bahagia.
 
Halaman 4a Kembali ke atas
Ini perihal upaya untuk menenteramkan pulau Bali supaya selamat dan selalu berpahala. Sepatutnya Nglurah Sidemen mengawasi ketentuan pura-pura seperti dahulu, tempat bersemayamnya para Dewa dan Batara. Pikiran yang tenteram dilambangkan dengan Padmasana. Padma Nglayang adalah lambang dari Gunung Agung, Gunung Batur adalah lambang dari gunung Indrakila. Di Besakih bagian selatan tempat. bersemayamnya I Dewa Kidul, bangunan gedong bertembok. Persemayaman Ida I Dewa Manik Mas meru bertingkat satu bertiang empat. Persemayaman I Dewa Bangun Sakti meru bertingkat satu bertiang empat. Persemayaman I Dewa Ulun Kulkul meru bertingkat satu bertiang empat. Persemayaman I Dewa Jero Dalem meru bertingkat satu bertiang empat dan persemayaman I Dewa Empu Anggending sebuah gedong. Persemayaman Batara Sri meru bertingkat satu bertiang empat, persemayaman Batara Basukihan meru bertingkat tujuh. Persemayaman Batara Pangubengan meru bertingkat sebelas.
 
Halaman 4b Kembali ke atas
Di Penataran, persemayaman I Dewa Atu sebuah meru bertingkat sebelas. Persemayaman I Dewa Paninjoan sebuah meru bertingkat sembilan. Persemayaman I Dewa Mas Mapulilit meru bertingkat sebelas. Ini semua terletak di Penataran Agung. Lengkap dengan tempat jempana semua pura terutama sekali bangunan Sanggar Agung. Bale Agung yang terdiri dari sebelas ruangan, sebuah Kori Agung, di luar pintu gerbang ada dua balai bertiang delapan dan candiraras mengapit pintu gerbang. Perihal persemayaman I Dewa Tegal Besung sebuah meru bertingkat sebelas. Persemayaman I Dewa Samplangan sebuah meru bertingkat sembilan. Persemayaman I Dewa Enggong sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I Dewa Sagening sebuah meru bertingkat lima. Persemayaman I Dewa Made sebuah meru bertingkat tiga. Persemayaman I Dewa Pacekan sebuah meru bertingkat satu berbentuk gedong. Persemayaman Pangeran Tohjiwa sebuah meru bertingkat tiga. Persemayaman I Dewa Pasek sebuah meru bertingkat tiga.
 
Halaman 5a Kembali ke atas
Selanjutnya tentang bale mandapa tempat peristirahatan Dalem didampingi oleh Nglurah Sidemen. Dalem seyogyanya mengetahui semua bangunan suci yang ada di pura Batumadeg yang diemong oleh I Dewa Den Bancingah bersama para Arya dan masyarakat di sebelah barat sungai Telagadwaja supaya dalam keadaan baik semuanya. ini ketentuan mengenai persemayaman para Dewa yang diemong oleh Anglurah Sidemen bersama para Arya dan masyarakat desa di sebelah timur sungai Telagadwaja yaitu: Persemayaman I Dewa Gelap sebuah meru bertingkat tiga bertembok berdinding. Persemayaman I Dewa Bukit bersama permaisuri sebuah meru bertingkat satu bertembok. Persemayaman I Dewa Ratu Magelung meru bertingkat tiga bertembok. Persemayaman I Dewa Wisesa sebuah meru bertingkat sebelas dan sebuah candi raras yang merupakan pintu/jalan keluar masuk I Dewa Bukit. Persemayaman Sang Hyang Dedari sebuah balai bertiang empat yang dibuat dari kayu cendana.
 
Halaman 5b Kembali ke atas
Persemayaman I Dewa Tureksa sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I Dewa Maspahit sebuah meru bertingkat sebelas. Persemayaman I Dewa Manik Makentel sebuah meru bertingkat sebelas, sebuah balai Panggungan beratap ijuk lengkap dengan kain busana, sebuah balai Manguntur. sebuah balai Sumangkirang beratap ijuk. Di luar pintu gerbang dua buah balai Ongkara mengapit pintu. Dan juga dua buah balai Majalila beratap ijuk berhadap-hadapan. Persemayaman I Dewa Manik Geni sebuah meru bertingkat sembilan. Persemayaman I Dewa Penataran sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I Dewa Hyangning Made Gunung Agung sebuah meru bertingkat lima. Persemayaman I Dewa Gusti Hyang sebuah meru bertingkat tiga. Persemayaman Ida Hyang Antiga sebuah meru bertingkat satu. Persemayaman I Dewa Hyangning Teges sebuah meru bertingkat satu, semuanya beratap ijuk dan berdinding. Ini bagian yang diemong oleh Anglurah Sidemen. Semua bangunan suci yang berada di Penataran Agung juga menjadi tanggungjawab raja.
 
Halaman 6a Kembali ke atas
Dan lagi bangunan suci di pura Dangin Kreteg ditetapkan diemong oleh Arya Karangasem. Demikianlah semua bangunan suci yang tertulis dalam piagam. Dan untuk selanjutnya tentang upakara dan upacara besar maupun kecil menjadi tanggungjawab Anglurah Sidemen, juga mengenai kain-busana usungan para Dewa dan alat-alat perhiasan lainnya dibiayai dengan hasil tanah di Bebandem, Cacakan, Pajegan, Gantalan. Ini harus diingat / diperhatikan oleh Anglurah Sidemen, perlengkapan usungan para Dewa selengkapnya dan kewajiban para pemegang sawah milik raja. Begini anugerah Batara Maospahit. "Wahai turunanku raja Majapahit yang kuberikan gelar Ratu Kepakisan yang menjadi raja Bali, turun temurun harus mentaati dan menghormati piagam ini. Pegang dengan teguh piagam ini dan sebar luaskan di Bali. Dibantu oleh keturunan para Arya yang mengiring dan para punggawa yakni:
 
Halaman 6b Kembali ke atas
Arya Kanuruhan, Kenceng, Belog. Delancang. Dan berikutnya warga Wang Bang yang juga turunan Brahmana yang ikut bersama-sama mengarungi samudra dan warga Kuta Waringin. Kepada Sira Wang Bang saya tugaskan menuju Gunung Agung (Besakih) supaya bersama-sama dengan Sang Kul Putih mohon anugerah ke hadapan Dewa (mengabdikan diri ke hadapan para Dewa) langsung sampai ke puncak Gunung Agung. Maka mulai sekarang Sira Wang Bang bersama Sang Mangku Gunung Agung. Sira Wang Bang bertugas menjaga arca Dewa dan piagam Raja yang turun dari Kahyangan. Ini semua hendaknya diemong selama-lamanya, turun temurun. Aku mengatur / menentukan pemujaan kepada para Dewa dan lanjut upacara pengodalan pada hari Rabu Wage, wuku Kulawu, upacara pemujaan setiap hari purnama dan tilem (bulan gelap) Oktober. Nopember. April, Juli. pada saat itulah raja datang bersembahyang ke Besakih bersama para pendeta dan pasukan. Aku memberi ijin untuk mengambil hasil bumi, udara, tegalan dan sawah di desa-desa, hasil pantai, laut dan gunung di sebelah
 
Halaman 7a Kembali ke atas
timur sungai Telagadwaja. Terutama hasil tegal dan sawah bukti di desa Muncan. Jumlah uang tujuh belas ribu dan sawah berbibit delapan puluh lima tenah, sebagai biaya dapur dan isi lumbung agung, Sawah-sawah itu terletak di Bukih, Pedengdengan Kelod, sampai ke Keben Aras yang bernama Tinggarata. Pahyasan, Sari, Gunung Sari Lebih, dikenakan bawang putih 2200 biji dan lagi hasil bumi Selat. Ingat barang-barang itu sebagai pengisi lumbung agung yang terletak di halaman luar pura Besakih tempat hasil sawah laba itu seharga 1700. Lumbung itu milik raja dan lumbung pajenengan Batara di Gunung Agung (Besakih). Kalau sudah demikian stabillah persemayaman Dewa dan kedudukan raja. Kalau lumbung Dewa dan milik raja rusak maka diwajibkan desa harus memperbaiki lumbung itu dan mengatapi sampai selesai. Raja memberikan kuasa kepada semua penghulu desa.
 
Halaman 7b Kembali ke atas
Peringatan kepada Sedahan Penyarikan: supaya menaikkan padi ke lumbung terutama hasil sawah Santen Dawa Higa yang dipergunakan untuk biaya upacara di pura Besakih dan Batara di puncak Gunung Agung. Bahan upakara itu dibebankan kepada masyarakat desa Sikuhan, Renaasih, Luwih, Suarga Peleng, masing-masing 500 biji dasun putih beserta uang dan ayam putih jantan betina, bunga palawa, bunga kasna yang bunganya melekat menjadi satu dan cemara tiblun. Ini harus dibawa setiap hari Kamis Paing wuku Wayang dan Minggu Paing Dungulan ke halaman luar pura Besakih diterimakan kepada Sedahan Dewa. Jangan lalai jangan alpa dan jangan curang. Ini adalah persembahan raja kepada para Dewa dan Batara yang bersemayam di puncak Gunung Agung. Batara bersabda, "Hai kamu manusia taatilah titahku! Piagam ini telah direstui oleh para Dewa Nawasanga.
 
Halaman 8a Kembali ke atas
Jika tidak mentaati Piagam ini semoga kamu sirna dan menjadi lintah". Ini Piagam tahun 1007 Masehi (929 Saka). Om Namobhye namah, Om Sri wastha sattawasar. Raja Majapahit kabarnya dalam keadaan berbaring. Pada waktu itulah Prasasti yang berupa Piagam ini dikeluarkan. Aku adalah Batara Indra, aku ini adalah Batara Maospahit dan aku raja Majapahit bersama-sama bersemayam di pulau Bali. Diceritakan sekarang Dalem Pakisan yang menurunkan raja Bali. Karena ketulusan hati dan kebijaksanaan beliau ibarat Sang Hyang Darma menjadi raja yang dapat mengalahkan raja Bali yang terdahulu. Dan Sira Wang Bang yang mengabdikan diri kepada Batara di Besakih juga mengemong pura tempat bersemayamnya Batara Naga Basukih. Demikianlah kewajibannya selama hidup serta para turunannya mengabdi mempersembahkan air suci. Sira Wang Bang mengantarkan persembahan raja ke hadapan Batara di Kahyangan tatkala bersembahyang ke hadapan yang bersemayam di puncak Gunung Agung dan Batara Pusering Tasik (Tengah samudra) dan lautan madu.
 
Halaman 8b Kembali ke atas
Aku mengambil hasil bumi dan angkasa, segala jenis hasil pesisir, lautan dan gunung untuk biaya upacara ke hadapan Batara di Besakih (gunung Agung). Berkat anugerah Batara masyarakat bersatu mematuhinya akibatnya bumi pun makmur. Para Arya semua bersatu yaitu: Arya Kanuruhan, Arya Kenceng, Delancang, Arya Belog, Arya Kuta Waringin. Sabda Batara, "Hai kamu manusia mayapada, jangan engkau durhaka kepadaku. Jika engkau tidak memelihara pura-pura di Besakih persemayaman para Dewa masing-masing dan kalau ada yang rusak tidak kamu perbaiki, tidak bakti, semoga kamu bertikam-tikaman dengan keluargamu dan semoga engkau binasa, martabatmu akan surut dan menderita serta jauh dari keselamatan". Sabda Batara Nawasanga kepada para umat penganut Siwa dan Buda dan para catur wangsa supaya memelihara dan memperbaiki kerusakan pura di Besakih. Apabila waktu bersembahyang melihat warna seperti ijuk sekakab (segabung), itu pertanda turunnya Batara Kidul Bangun Sakti. Ucapkan mantra: Ong, Bang, I, namah. manifestasi Sang Hyang Antaboga yang bersemayam di samudra.
 
Halaman 9a Kembali ke atas
Kalau kelihatan seperti air tenang itu pertanda turunnya I Dewa Bukit. Ucapkan mantra: Ong, Yang, Ung, namah. ltulah manifestasi Batara Duhuring Akasa / Batara Naga Basukih. Kalau kelihatan ada cahaya seperti api menyala dan gemerlapan, itu pertanda turunnya Batara Atu. Ucapkan mantra: Ongkara Siwa namah swaha. Manifestasi Sang Hyang Siwa. Apabila kelihatan warna putih berkilau-kilauan itu pertanda turunnya I Dewa Sesa. Ucapkan mantra: Ong, Saswara Indra nama swaha. Manifestasi Sang Hyang Surya. Tampak cahaya berwarna merah itu pertanda turunnya I Dewa Rabut Pradah. Ucapkan mentera: Ong, Bang Yudhaya namah swaha. Manifestasi Batara Brahma. Kelihatan cahaya berwarna kuning seperti emas wilis itu pertanda turunnya Batara Maospahit. Ucapkan mentera: Ong, Ong, Tang namah swaha. Manifestasi Batara Wulan.
 
Halaman 9b Kembali ke atas
Kelihatan. cahaya seperti kaca hitam itu pertanda turunnya Batara Batu Madeg. Ucapkan mentera: Ong, Ang, Ung. Kresnaya nama swaha. Manifestasi Batara Wisnu. Kelihatan cahaya seperti perak bertatahkan permata mirah itu pertanda turunnya Batara Basukihan. Ucapkan mentera: Ong, Mang, Siwaya namah swaha. Manifestasi Sang Agawe Pita. Kelihatan cahaya seperti mirah dan intan yang telah digosok itu pertanda turunnya I Dewa Mas Makentel. Ucapkan mentera: Ong, Mang. Siwaya namah swaha. Manifestasi Batara Rabut Sedana Sakti. Kelihatan cahaya seperti air embun seperti permata jamrut itu pertanda turunnya I Dewa Manik Malekah. Ucapkan mentera: Ong, Sang Bhawantu Sri ya namah. Manifestasi Batara Sri. Kelihatan cahaya seperti bunga teleng gemerlapan itu pertanda turunnya Batari Pertiwi. Ucapkan mentera: Ong, Ong, Sri Sundharu ya namah. Manifestasi Batari Kuwuh/Batari Sundhari. Beliaulah yang menciptakan yang indah-indah dan benda-benda berharga dan persemayaman beliau tiada taranya.
 
Halaman 10a Kembali ke atas
Kelihatan cahaya seperti kunang-kunang bertaburan itu pertanda turunnya I Dewa Geni / I Dewa Gelap. Ucapkan mentera: Ong Sa, Ba, Ta, nama siwaya. Beliau berwujud baik buruk, bumi dan angkasa. Kelihatan cahaya gelap gulita itu pertanda turunnya Batara Gangga di sebelah selatan Besakih menjadi mata air yang dinamakan Sindu Tunggang. Kisah kenyataan. Kelihatan cahaya gelap gulita turun Batari Gangga di sebelah utara Besakih: menjadi mata air yang dinamakan Sang Hyang Tirta Sakti Amerta. Demikianlah kisah semua mata air pada tahun 122 M. Turun Batara Indra dan membawanya ke Surga. Ini disebut Brahma Tirta terjadi pada tahun 126 Masehi. Turun pada waktu gelap gulita hujan angin kelihatan seperti mas berpermata intan dan terdengar seperti suara gentaworag para Mpu mengalun. Ucapkan mentera: Ong, Nang, Ung, Nang, Ung. Turunlah arca mas bermuka empat, arca perak, tembaga, loyang, besi. Semua bertatahkan permata mirah.
 
Halaman 10b Kembali ke atas
Turun pada waktu malam hari disertai topan dan hujan itu pertanda turunnya Sang Hyang Siyem berwarna putih kehijau-hijauan dan Sang Hyang Rabut Pradah diiringi dengan tabuh-tabuhan dengdengkuk. Untuk mengingatkan raja supaya bersembahyang ke Besakih bersama para Arya serta rakyatnya mempersembahkan upacara. Semua mengiring malasti ke pancuran Pamanca (Arca) pada paruh bulan terang dengan kurban berupa babi guling 5, suci, dan lis. Di Pulo Jelepung sawah berbibit dua tenah dan lagi di Kinang sawah berbibit dua setengah tenah di Balu Agung Jelantik sawah berbibit empat tenah di Batu Mangecek berbibit empat tenah. Lagi sawah di daerah Tusan yang terletak di Jati Heling berbibit dua tenah